• 08-02-2018

    Beginilah Prosedur Anestesi Jelang Operasi yang Benar

    SURABAYAONLINE.CO-Menurut dr. Anna Surgean Veterini, SpAn KIC dari Rumah Sakit Bedah Surabaya (RSBS), bahwa sebelum seseorang menjalani sebuah tindakan anestesi, menjelang dan setelah operasi ada beberapa tahapan yang pasien dan keluarganya harus mengetahuinya.

    Pertama, sebelum tindakan operasi seorang dokter anestesi akan melakukan pemeriksaan kepada pasien. “Pemeriksaan itu sangat penting sebab dokter anestesi bisa melihat bagaimana kondisi psikis dan fisik si pasien, sejauh mana kesiapan mental dan fisiknya” kata Anna.

    Pemeriksaan pra-anestesi, dilakukan dokter anestesi yang dibantu perawat dimulai dengan menanyakan tentang riwayat pasien di antaranya : apakah pasien pernah mengidap suatu penyakit, apakah alergi terhadap jenis obat-obatan tertentu, apakah menjelang operasi tersebut juga tengah mengonsumsi obat-obat jenis tertentu pula, operasi itu sendiri karena akibat kecelakaan atau tidak, apakah operasi yang akan dilakukan adalah operasi darurat atau terencana.. Ini adalah standar yang harus dilalui sebelum dilakukan anestesi menjelang masuk kamar operasi.

    Pemeriksaan standar tersebut sangat penting sebab akan berhubungan dengan teknik anestesi sekaligus jenis obat anestesi yang akan dimasukkan ke dalam tubuh pasien,” papar Anna yang juga menjelaskan bahwa sebelum operasi dilakukan pasien juga harus menjalani puasa dalam waktu tertentu.

    Anestesi sendiri ada tiga macam. Pertama ada general anestesi yaitu di mana pasien ditidurkan selama jalannya operasi berlangsung. Kedua, regional anestesi, di mana yang dianestesi atau yang dimatirasakan hanya separo bagian tubuh, misalnya dalam kasus ibu yang menjalani operasi caesar.

    Sedang yang ketiga adalah periperal nerve block atau anestesi hanya pada bagian-bagian yang dioperasi saja. “Misalnya kalau yang luka adalah tangan dan mau dijahit maka hanya sekitar luka saja yang disuntik supaya mati rasa agar pasien nyaman tidak kesakitan selama jalannya operasi. Sebelum semua dimulai di kamar operasi, kami selalu memulai dengan recek segala sesuatunya, dan berdoa dipimpin oleh Dokter anestesi,”imbuh Anna.

    Setelah operasi, masih ada tindakan lanjutan yang harus dilakukan, yaitu begitu keluar dari kamar operasi kemudian dimasukkan ke ruang recovery room (RR) atau ruang pulih sadar. Setelah minimal dua jam di RR, bagi pasien yang tidak terlalu berat operasinya, maka bisa langsung dipindah ke kamar rawat inap atau pulang langsung.

    Tetapi kalau selama di RR kondisinya kurang bagus maka akan langsung dimasukkan ke ICU supaya bisa dipantau lebih cermat. “Tetapi ada operasi berat misal pembedahan kepala, usia lanjut atau selama operasi mengalami perdarahan cukup banyak maka usai keluar ruang operasi biasanya langsung dimasukkan ke ruang ICU untuk dipantau,” jelas Anna.

    Agar tidak menimbulkan nyeri pasca-operasi maka dokter anestesi akan memberikan obat antinyeri sebagai penghilang rasa sakit agar pasien lebih nyaman.

    Kendati semua sudah direncanakan dengan sangat baik sesuai dengan standar, tetapi yang perlu ditegaskan kepada pasien dan keluaraganya bahwa sekecil apapaun dalam sebuah tindakan medis tidak ada yang tidak mengandung resiko. Karena itu sebelum operasi dilakukan seorang dokter harus memberikan inform consent atau penjelasan yang cukup kepada pasien atau keluarganya tentang hal-hal tersebut.

    “Penjelasan ini sangat penting agar pasien atau keluarganya bisa memahami meski seorang dokter sudah menjalankan tindakan sesuai dengan standar tetapi dalam hal-hal tertentu bisa terjadi di luar kendali,” jelas Anna yang minta agar selama operasi keluarga bisa menunggui sehingga kalau terjadi sesuatu maka dokter bisa segera memberitahu kepada keluarga pasien.(Gandhi W)

    Sumber : http://surabayaonline.co/2018/01/27/beginilah-prosedur-anestesi-jelang-operasi-yang-benar/